Etnosains berasal dari bahasa Yunani ethnos yang berarti ‘bangsa’ dan scentia yang berarti ‘pengetahuan’. Etnosains adalah intrepretasi dan pemahaman suatu kelompok masyarakat lokal tertentu yang asalnya dari norma dan kepercayaan yang mereka miliki. Etnosains didefiniskan sebagai suatu kegiatan mentransformasikan pengetahuan alam yang dilakukan oleh masyarakat mengenai fakta masyarakat yang bersumber dari nenek moyang berupa kepercayaan dan mitos turun temurun. Ahli lain menyebutkan bahwa etnosains merupakan pengetahuan yang berasal dari kebudayaan masyarakat dan mampu menjadi dasar untuk membangun sebuah realitas yang menekankan pada relasi antara budaya dan pengetahuan ilmiah modern.
Dikutip dalam buku ‘Pendidikan Karakter, Etnosains dan Kearifan Lokal’ (Sudarmin, 2015) istilah ‘sains’ atau ilmu pengetahuan dibedakan dengan pengetahuan (dalam perspektif filsafat ilmu). Setelah ilmu pengetahuan diperoleh, pengetahuan ini harus dapat diuji kebenarannya oleh orang lain, sehingga kebenaran pengetahuan ini tidak lagi bersifat subjektif, tetapi intersubjektif. Ilmu pengetahuan juga dapat didefinisikan sebagai rangkaian konsep dan kerangka konseptual yang saling berkaitan dan telah berkembang sebagai hasil percobaan dan pengamatan yang bermanfaat untuk percobaan lebih lanjut. Nilai-nilai kearifan lokal dalam tradisi budaya Indonesia, – sebagai indigenous science- dapat ditelaah lebih lanjut untuk mengetahui konsep sains yang terkandung di dalamnya. Ini berpotensi menjadi kajian etnosains dan sumber belajar.
Beberapa contoh kearifan lokal di Indonesia serta konsep sains yang mendasarinya seperti pada Gambar 1 berikut.


dengan konsep dinamika
partikel

konsep dinamika gerak



Gambar 1. Contoh kearifan lokal di Indonesia serta konsep sains yang mendasarinya
Setiap kearifan lokal di Indonesia dapat dianalisis konsepnya menggunakan konsep sains. Proses bridging antara budaya dengan ilmu pengetahuan alam menjadi suatu hal yang sangat menarik untuk dipelajari. Oleh karena itu, pembelajaran pada bahan ajar ini akan mencoba menganalisis konsep fisika terkait dinamika gerak pada salah satu kearifan lokal yang ada di Indonesia.
Dinamika Gerak
Fenomena Etnosains Terkait Materi Hukum Newton tentang Gerak
Fenomena Etnosains 1: Tarik Tambang
Tarik Tambang merupakan salah satu jenis permainan tradisional yang mendunia. Di Indonesia, permainan Tarik Tambang sudah tidak asing lagi bagi bagi semua kalangan. Ini sudah menjadi tradisi yang turun temurun sejak zaman dahulu. Belum jelas sejak kapan dan dari mana asal dari permainan ini. Tarik Tambang juga digunakan untuk melatih kekuatan fisik orang-orang pada masa dahulu. Perlengkapan yang diperlukan dalam Tarik Tambang hanya sebuah tali yang kuat. Tarik Tambang dimainkan secara beregu oleh dua tim. Permainan tarik tambang hanya memerlukan sebuah tali tambang. Bahan pembuatan tali ini dari serat. Panjangnya sekitar 20 sampai 50 meter. Bagian tengah dari tali diberi tanda dengan kain atau cat berwarna merah. Sementara pembatas tiap tim pada tali diberi jarak sekitar 2,5 meter dari batas tengah. Salah satu konsep fisika yang dapat dieksplorasi dari etnosains Tarik Tambang adalah konsep dinamika gerak. Bagaimana gaya yang dibutuhkan agar setiap pemain dapat mempertahankan posisinya? Berapa besar percepatan serta gaya gesek yang dialami setiap pemain? Ini akan menjadi pembahasan yang sangat menarik dan membutuhkan kemampuan berpikir untuk dapat memahaminya.
Fenomena Etnosains 2: Cidomo
Cidomo/Cikar/Dokar adalah alat transportasi tenaga kuda yang khas di Lombok dan Indonesia. Secara fisik kendaraan ini mirip dengan delman atau andong yang terdapat di pulau Jawa. Perbedaan utama dari delman atau andong adalah cidomo menggunakan roda mobil, bukan roda kayu. Sampai saat ini, alat transportasi ini masih menjadi sarana transportasi utama, terutama pada daerah-daerah yang tidak dijangkau angkutan publik dan daerah-daerah sentra ekonomi rakyat seperti pasar. Pada konsep gerak cidomo juga terdapat konteks ilmiah yang juga perlu dieksplorasi. Baik dari konsep gaya tarik, gesekan roda dengan tanah, serta kemampuan kusir dalam menyeimbangkan cidomo menjadi hal yang sangat menarik untuk dibahas khususnya pada dinamika gerak.
Fenomena Etnosains 3: Balap Bakiak
Sebuah permainan adat yang berasal dari Sumatera Barat yang disebut “Balap Bakiak” menggunakan konsep hukum pertama Newton untuk dapat memainkan dan memenangkannya. Balap bakiak adalah permainan bakiak yang populer di Indonesia terutama pada even 17 Agustusan. Lomba bakiak biasanya dilakukan oleh tiga orang atau lebih dengan berjalan di atas papan kayu yang diberikan pengait untuk kaki. Para pemain harus kompak dalam melangkah supaya tidak terjatuh. Olahraga yang terlihat cukup aneh ini melibatkan tiga orang dalam satu tim yang berlari dengan papan kayu yang sama. Papan kayu tersebut memiliki panjang satu meter dengan lebar kurang lebih 9 cm dan tebal 3 cm.
Kemenangan dari permainan ini menggunakan konsep kestabilan setiap pemain. Oleh karena itu, total gaya yang diberikan oleh pemain pertama, kedua dan ketiga harus bernilai sama, agar mereka tetap seimbang, dan bergerak dengan kecepatan konstan, sehingga tidak terjatuh. Perbedaan konsep gaya dan tarikan dalam fenomena etnosains yang sudah dijabarkan sebelumnya menjadi hal yang menarik untuk diamati dan dianalisis dalam konteks ilmiah. Jika kita mempelajarinya dalam konteks sains saat ini, maka dapat dikaitkan dengan konsep dinamika gerak, yaitu mekanika Newtonian. Salah satu inferensinya adalah bagaimana perbedaan gaya yang diberikan pada setiap gerakan yang dilakukan? Serta bagaimana gaya mempengaruhi keadaan suatu benda? Untuk memahami hal ini, pemahaman terkait konsep dinamika gerak, jenis gaya, serta ketiga hukum Newton perlu ditingkatkan dan dieksplorasi lebih jauh agar dapat mengintegrasi setiap konsep ilmiah di dalam fenomena etnosains yang ada.